Penanganan
ikan hasil tangkapan pada kapal rawai tuna ini umumnya sudah memenuhi
standar kualitas penanganan mutu yang diinginkan oleh konsumen. Namun
demikian, penanganan ikan pun membutuhkan keterampilan pemilahan ikan
dari kail dan penggunaan teknologi yang digunakan untuk menyimpan ikan.
Solusi operasional rawai tuna yang efektif dan efisien bukanlah jawaban
yang mudah. Namun demikian, penulis mencoba membahas berdasarkan
faktor-faktor kendala sebagaimana dijelaskan di atas.Teknologi yang
digunakan dalam pemanfaatan sumberdaya tuna disesuaikan dengan sifat dan
tingkah laku ikan sasaran. Tuna (Thunnus spp.) dan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan
jenis ikan perenang cepat yang bergerombol. Oleh karena itu, alat
tangkap ikan menggunakan rawai tuna harus disesuaikan dengan sifat dan
tingkah laku ikan yang menjadi tujuan penangkapan.Umumnya tuna dan
cakalang dapat tertangkap pada keldalaman 0 – 400 meter. Salinitas
perairan yang disukai berkisar 32 – 35 ppt atau di perairan oseanik dan
suhu perairan berkisar17 – 31o C.Penentuan daerah penangkapan
dengan tepat dapat dilakukan dengan dukungan berbagai informasi dan
bantuan teknologi yang terus berkembang selain dengan secara visual
langsung di perairan. Penggunaan teknologi saat ini adalah penginderaan
jauh kelautan dan hidroakustik yang menentukan daerah penangkapan dengan
menganalisis secara fisika kimiawi perairan.
A. PENDAHULUAN
Dengan diproklamirkannya Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia ( ZEEI ) 200 mil dari batas perairan teritorial tanggal 21 Maret 1980, maka luas perairan Indonesia bertambah menjadi ± 5,8 juta Km2. Bertambah luasnya perairan Indonesia memberi harapan baru yang menguntungkan bagi perkembangan perikanan laut.
Potensi lestari sumberdaya hayati perikanan tuna di perairan teritorial dan ZEEI diperkirakan 258,8 ribu ton per tahun ( Anonymus,1983 ).
Bertambahnya potensi perikanan tuna dari ZEEI merupakan tantangan bagi
kita untuk dapat mengelola dan memanfaatkannya secara rasional.
Long
Line merupakan salah satu alat tangkap yang efektif dan khusus
ditujukan untuk menangkap ikan tuna, karena konstruksinya mampu
menjangkau kedalaman renang ( Swimming layer ) dan sangat sesuai untuk dioperasikan di perairan ZEEI 200 mil.
B. PENGERTIAN
Long line adalah tali yang memanjang yang dimasukkan ke dalam laut, terdiri dari main line ( tali utama ) dan branch line
( tali cabang ) yang diikatkan pada tali utama tersebut. Tali cabang
adalah tali sebagai cabang dari tali utama, yang menjorok ke dalam laut,
dan di bawahnya digantungkan pancing – pancing yang diberi umpan.
C. KAPAL TUNA LONG LINE
Kapal
untuk ikan tuna long line, termasuk jenis kapal untuk laut lepas. Hal
itu dikarenakan daerah penangkapan ikan tuna ataupun jenis ikan tuna
lainnya berada jauh dari lepas pantai, maka kemampuan kapal juga
tergantung pada ukuran besar kecilnya kapal.
1. Kapal ikan tuna long line dilengkapi dengan mesin seperti
· Line hauler è Mesin untuk menarik tali dari laut
· Side roller è Roll dipakai ketika menarik tali dari laut
· Line roller è Mesin untuk membuang tali ke laut
· Branch reel è Mesin untuk menggulung tali cabang dari laut
2. Alat penangkapan ikan tuna
· Alat penangkapan ikan tuna terdiri dari tali utama, tali cabang, tali pelampung, pelampung dan pancing.
· Tali utama ( main line )
a Tali utama Tali ini adalah tali utama ( main line ) pada tuna long line
b Di tali utama dipasang tali cabang setiap 50 m
· Tali cabang ( branch line )
a Tali cabang ini adalah tali cabang pancing sepanjang 20 – 50 m
b Di ujung tali cabang dipasang mata pancing
· Tali pelampung ( buoy line )
a Tali ini adalah tali – tali untuk mengapungkan tali utama
b Tali ini menyambungkan pelampung dengan tali utama
c Mudah dipasang dan dicabut dengan tali utama karena ada snaph
· Pelampung ( float )
a Pelampung adalah alat untuk mengapungkan tali utama di laut
b Pelampung berbentuk bola plastik yang cukup besar
· Pelampung berlampu ( light buoy )
a Pelampung ini, pada malam hari digunakan untuk mencari posisi ujung tali tuna di laut.
b Diatas pelampung dipasang lampu tanda
· Mata pancing ( hook )
a Mata pancing dipasang diujung tali cabang
b Mata pancing ini memiliki kaitan supaya ikan yang telah memakan umpan tidak terlepas ( tetap terkait )
Tabel 1.1 Ukuran dari bagian – bagian Long Line
| No. | Nama Bagian | Bahan | Diameter
( mm ) | Panjang
( m ) |
| 1. | Tali Utama | Polyester | 6 - 6,5 | 50 |
| 2. | Tali Cabang :
a. Snaph on
b. Tali cabang utama
c. Kili – Kili
d. Yoka
f. Pancing | Baja anti karat
Polyester
Kuningan & timah
Polyester
Baja dilapis timah | 5,0
3,5
No . 28
3,3
No . 5 / 6 | 0,15
20
-
12,5
- |
| 3. | Tali Pelampung | Polyester | 6,5 | 30 |
| 4. | Pelampung | Plastik | 300 | - |
D. PERSIAPAN PENANGKAPAN
1. Persiapan Berangkat.
Sebelum
berangkat diperlukan waktu satu minggu untuk persiapan. Kapten harus
betul – betul sudah merencanakan apa yang diharapkan dari hasil
penangkapan itu dan menentukan untuk rencana pelayaran baru.
-
Para ABK bersiap untuk memuat barang perbekalannya, selain itu juga
para pegawai perusahaan perikanan yang di darat harus sudah memulai
keperluan operasi pemancingan ikan dan barang - barang yang diminta dari
anak buah kapal tersebut.
- Seiring
perkembangan zaman dengan adanya teknologi canggih, baik mesin – mesin
maupun peralatan penangkapan ikan yang semakin modern, begitu pula cara
memesan barang atau memperbaiki peralatan yang rusak, cukup dengan
memesan ke pabriknya langsung sebelum bertolak, dengan kata lain
persiapan untuk bertolak waktunya semakin pendek.
-
Bagi ABK, karena pelayaran long line ini jangka panjang, maka dapat
membawa barang – barang pribadi yang diperlukan, selain itu saat ini
alat komunikasi semakin canggih, untuk berhubungan dengan darat dapat
dilakukan sewaktu – waktu.
2. Berlayar
Berkenaan
dengan hasil laporan ke darat ( kantor pusat ) pada kapal ikan tuna
jenis Long Line ini, semakin ditingkatkan kualitasnya. Persiapan alat
pancing akan dimuat ke kapal, tidak perlu dikerjakan sendiri oleh ABK,
maka bagi dirinya lebih enak. Hanya setelah sampai ke Daerah
Penangkapan, ABK tinggal siap untuk memulai operasi memancing, jadi
tidak perlu membenahi alat – alat pancingnya, dengan jalan ini jelas
waktunya semakin hemat. Alat – alat ini semua umumnya telah disediakan
oleh toko penjual alat – alat pemancingan, untuk itu berarti penanganan
atau pemeliharaannya sedikit.
-
Perijinan kapal
Untuk
memenuhi persyaratan peraturan pelayaran, maka setiap kapal harus
memenuhi standar kelayakan laut, guna menjamin keselamatan kapal serta
untuk mengendalikan usaha perikanan melalui perijinan. Perijinan
berfungsi untuk membina usaha perikanan dan memberikan kepastian usaha
perikanan itu sendiri. untuk memenuhi ketentuan yang berlaku adapun
persyaratan kelayakan laut kapal Long Line meliputi :
-
Ijin Usaha Perikanan ( IUP ) • Sertifikat Kesempurnaan
-
Surat Penangkapan Ikan ( SPI ) • Surat Tanda Kebangsaan
-
Surat Ijin Penangkapan Ikan ( SIPI ) • Surat Ukur
-
Surat ijin berlayar dari syahbandar • Sijil Awak Kapal
-
Sertifikat garis muat
-
Perbekalan
Dibawah petunjuk dari Kapten dan Bosun semua ABK memuat umpan, alat – alat deck, alat – alat pancing dan air tawar.
Fishing master
secara langsung menentukan jumlah umpan dan jenisnya, ukuran dan
kesegaran ikan. Pengisian air minum dilakukan pada saat bongkar di
pelabuhan. Jumlah air minum yang dimuat kira – kira 15 – 45 ton.
Perbekalan yang harus disiapkan sebelum kapal bertolak dari pelabuhan ke daerah
fishing ground diantaranya :
· Umpan
·
Fuel Oil dan Pelumas
· Perlengkqpqn alat tangkap cadangan
· Deck /
engine supply
· Makanan dan Air tawar
· Obat – obatan
5. Persiapan lainnya
Melakukan
pemeriksaan peralatan navigasi, teropong, mesin utama, alat pengganti (
suku cadang ), mesin pendingin, pompa, generator, perlengkapan,
penangkapan dan lain –lain. Selain itu juga mempekerjakan orang untuk
turun kapal, meyiapkan perlengkapan kesehatan, alat komunikasi,
menentukan pasar dan lainnya.
E. FISHING GROUND TUNA LONG LINE
1. Prinsip fishing ground
Suatu perairan dapat dikatakan daerah penangkpan ikan
( fishing ground ) dari suatu alat, apabila alat itu dapat digunakan secara terus menerus dan menguntungkan. Dengan demikian
fishing ground harus ditentukan oleh beberapa faktor antara lain :
- Faktor adanya ikan ( musim ikan )
- Faktor jenis ikan yang ada dan dapat ditangkap dengan alat tersebut
- Faktor yang menguntungkan usaha penangkapan
- Faktor meteorologi dan oceanografi serta hal lain yang mempengaruhi
2. Sifat fishing ground
Sangat
tergantung dari sasaran yang akan ditangkap, sasaran utama yakni tuna
dan jenis ikan pelagis lainnya yang mempunyai sifat hampir sama dengan
tuna. Migrasi jenis ini jauh lebih luas sehubungan dengan itu sifat
fishing ground Tuna adalah :
- Perairan dalam dan berkadar garam tinggi ( diatas 30
o/
00 )
- Perairan bersih terhindar dari pencemaran dan penyebaran luas
Sifat-sifat
tersebut di perairan Indonesia terdapat di samudera Indonesia dan
samudera Pasifik. Karena luasnya kita bagi menjadi :
o Daerah Andaman dan Nicobar
o Daerah sebelah barat pulau Sumatera
o Daerah sebelah selatan pulau Jawa
o Daerah Nusa Tenggara
o Daerah Samudera Tengah
o Daerah Australia Barat
3. Musim Ikan
Sepanjang
tahun ikan tuna dapat ditangkap. Tetapi karena pengaruh temperatur air,
iklim dan arus, maka terjadilah perbedaan musim ikan di berbagai
daerah, sebagai berikut:
v Bulan Januari dan Agustus : Samudera Indonesia tengah
v Bulan Februari dan Maret : Sebelah barat pulau Sumatera
v Bulan April : Daerah Andaman dan Nicobar
v Bulan Mei, Oktober s/d Desember : Sebelah barat Australia
v Bulan Juni dan September : Nusa Tenggara
v Bulan Juli dan September : Sebelah selatan pulau Jawa.
F. OPERASI PENANGKAPAN
1. Bagian penting dalam operasi
a. Keadaan kapal saat setting
Fishing Master
dan kapten di ruang kemudi mengemudikan kapal sambil memperhatikan,
keamanan / keselamatan pada saat setting, kecepatan setting, adanya
kapal lain dan jaraknya, lintasan tali pancing, laju kapal, suhu air,
pusaran arus, burung laut, lumba – lumba dan kayu yang terbawa arus.
b. Pada saat memasang umpan
Hal
yang perlu diperhatikan adalah pencarian umpan, pemasangan pada mata
pancing ( biasanya ikan dikait pada bagian kepalanya ). Pada ikan
kembung pada bagian punggung, urutan mata pancing, melepas gulungan tali
cabang, dan memeriksa cacat pada setiap bagian tali cabang.
c. Radio – buoy dan lampu
Untuk penarikan saat tengah malam, pada tali utama (
main line ) dipasang lampu sebanyak 5 - 6 buah dan radio buoy sebanyak 12 – 13 buah.
3. Teknik Setting
a. Waktu
setting
Setting dilaksanakan pukul 2 – 3 pagi. Tali yang di setting terlebih dahulu adalah tali cabang untuk perairan laut dalam. Lama
setting kira –kira 5 jam. Panjang tali utama mencapai 100 mil.
b. Pada saat sebelum
setting
Pekerjaan
setting dilakukan secara berurutan seperti, mengeluarkan umpan dari
palka, mencairkan umpan, mulai menjalankan mesin, mengukur kedalaman air
( menggunakan alat yang dioperasikan di ruang kemudi ), menyambung
antar bagian pancing dari
main line ke
branch line,
memasang snaph, bola tali, memasang umpan pada mata pancing, memasang
pelampung di tali bola, radio buoy dan mempersiapkan lampu, serta
pembagian kerja diatur oleh
Fishing Master dan Bosun.
Tali
cabang untuk perairan laut dalam dipisahkan di sisi kapal dan tali yang
akan dipakai diletakkan di bagian sebelah kiri. Bola yang tidak dipakai
dan yang tidak berhubungan dengan tali yang dipasang dikumpulkan di
atas ruang kemudi. Pemasangan bola diameter 30 cm dilakukan setelah
pemasangan 4 buah bola diameter 20 cm.
4. Teknik Hauling
a. Waktu
hauling
Untuk pengoperasian
hauling dimulai kira – kira jam 12 siang. Lamanya
hauling antara 12 – 18 jam.
b. Saat
hauling
Sambil menggulung
main line perlu diperhatikan, arah bentangan tali, keadaan hasil tangkapan dan pemotongan tali yang kusut jika diperlukan.
- Dilakukan pengaturan dan pengawasan tempat penyimpanan
main line
- Penggunaan mesin pengumpul
main line
- Melepas snaph
- Mengatur kembali tempat penyimpanan alat – alat
- Mengatur penggunaan tempat bola
- Membetulkan tali cabang, mengganti mata pancing, serta membetulkan tali yang kusut.
G. CARA MEMASANG UMPAN
1. Jenis umpan :
Pada
penangkapan dengan long line mengenai masalah umpan sangatlah
menentukan jumlah hasil tangkap. Oleh karena itu perlu perhatian yang
sebaik – baiknya, perlu kita ketahui bahwa ikan tuna dan sejenis ikan
pelagis lainnya tidak suka umpan dalam bentuk irisan.
Ikan
pelagis tujuan penangkapan adalah jenis ikan perenang cepat dan memiliki
kebiasaan memburu mangsa. Untuk memberi kesan bahwa umpan kita itu ikan
hidup, maka diusahakan menyediakan umpan dalam bentuk utuh, segar dan
tidak rusak. Walaupun tidak dapat memenuhi semua syarat sebagai umpan,
jenis umpan Long Line antara lain :
Ø Cumi – cumi ( terbaik tapi harganya mahal, jumlahnya terbatas )
Ø Sarden / lemuru, memiliki leher pendek dan kurang kuat
Ø Ikan Terbang ( jumlah terbatas dan sulit diperoleh )
Ø Mackerel tuna ( tongkol kecil ), lehernya kuat dan keras.
2. Cara memasang umpan
Pemasangan umpan pada long line berbeda dengan
line fishing lainnya. Prinsip kerja cara pemasangan umpan yang benar menjaga agar umpan tidak terlalu rusak dan menyangkut dengan kuat.
Untuk menghasilkan cara pemasangan yang baik, maka terdapat beberapa cara bagian umpan yang terkait pancing, antara lain :
1. Mata tembus mata
2. Kepala bagian bawah atau atas segaris dengan tutup insang
3. Bagian bawah sirip dada tembus sebelah menyebelah
4. Bagian ekor
Pemilihan cara pemasangan umpan yang benar diharapkan :
ü Umpan terkait kuat, karena umpan tergantung dengan menahan arus, ikan umpan melekat kuat.
ü Umpan dapat melambai lebih baik, untuk memberi kesan bahwa umpan itu ikan hidup bebas.
3. Kecepatan memasang umpan
Umpan
dipasang pada waktu itu juga, saat akan dilempar kelaut. Berdasarkan
pengalaman kecepatan rata – rata tiap jam dapat menurunkan ± 500 pancing
. Berarti tiap satu menit harus dapat memasang umpan antara 8 – 10
pancing.
4. Syarat umpan
-
Ditinjau dari segi teknis :
Ø Terdiri dari satu ikan utuh
Ø Warna kontras, mengkilat ( hitam, putih atau disesuaikan dengan warna isi perut ikan tuna atau sejenisnya )
Ø Panjang antara 15 – 25 cm, lebar 2 – 5 cm
Ø Leher kuat dan daging ulet
Ø Mempunyai bau segar yang menyolok.
-
Ditinjau dari segi ekonomis
Ø Mudah didapat dalam jumlah banyak
Ø Harganya murah
Ø Perawatan gampang dan mudah
H. HASIL TANGKAPAN
Jenis Ikan Tuna yang tertangkap dengan Long Line :
- Tuna Mata Besar (
big eye tuna )
1. Badannya agak besar pendek gemuk. Yang besar dapat mencapai 2 meter dan beratnya 200 kg.
2. Matanya agaknya besar.
- Madidihang (
yellow fin tuna )
1. Badannya tidak gemuk seperti tuna mata besar
2. Panjangnya mencapai 1,8 meter dan beratnya 100 kg
3. Sirip dada dan sirip punggung berwarna kuning
- Tuna sirip biru (
blue fin tuna )
1. Panjangnya mencapai 1,6 meter dan beratnya 300 kg
2. Warna badan bagian atas biru kehijauan
- Albakora (
albacore )
1. Tergolong tuna kecil. Dapat mencapai panjang kurang lebih 1 meter dan berat 15 kg
2. Sirip dada cukup panjang
- Ikan pedang (
sword fish )
1. Dapat mencapai panjang sampai 4,5 meter dan berat 500 kg
2. Rahang atas tumbuh panjang sekali dan gepeng
3. Badannya bulat
- Setuhuk (
marlin )
1. Panjang mencapai 4 meter dan berat 600 kg
- Ikan layaran (
sail fish )
1. Panjang dapat mencapai 3 meter dan berat 400 kg
2. Tidak memiliki sisik
I. PENANGANAN IKAN TUNA
1. Mengenal Ikan Tuna.
Ikan
tuna merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai
tambah yang cukup berarti dipasaran ikan Internasional. Hal ini terbukti
dengan adanya permintaan tuna segar dipasaran Jepang yang mencapai 250 –
350 ton per hari, sehingga hal ini menjadi suatu tantangan bagi
Indonesia yang mempunyai potensi lestari khusus untuk ikan tuna sebesar
258,8 ribu ton / tahun.
Adapun jenis – jenis tuna segar yang diekspor adalah : Big – eye tuna
( Thunnus obesus ), Yellow fin tuna
( Thunnus albacares ).
Selanjutnya,
guna mendukung ekspor tuna segar menjadi produk yang bermutu baik, maka
semenjak ikan tertangkap sampai pada tangan konsumen, mutu kesegarannya
harus dijaga dengan tetap mempertahankan suhu ikan berkisar 1- 2,5
0 C, atau selalu dalam keadaan di es.
2. Penanganan ( handling ) tuna segar
Dalam hal ini ada 2 cara penanganan dengan peng-Es-an biasa
( Chiling ), kedua dengan sistim Pendinginan Air Laut
( Refrigerated Sea Water ) yang sering terdapat pada kapal – kapal penangkapan.
Urutan penanganan dapat dilakukan sebagai berikut :
- Penyiapan palkah dan deck kapal, dengan cara membersihkannya terlebih dahulu.
-
Pada saat ikan telah naik di atas kapal, maka harus dikerjakan secara
hati – hati baik saat melepas mata pancing maupun meletakannya di atas
deck, dan hindari luka – luka atau memar tubuhnya.
Bila masih hidup dapat dimatikan terlebih dahulu dengan menusukan marlin / spike tepat pada bagian otak di kepala.
- Buka salah satu tutup insang, lalu buang lapisan – lapisan insang dengan cara dipotong dengan pisau.
-
Keluarkan isi perut melalui rongga insang. Untuk mempermudah penarikan
isi perut maka bagian anus disobek sepanjang ± 3 cm. Sehingga usus yang
menempel pada anus dapat tercabut dengan mudah.
- Cuci bersih rongga insang dengan perut, juga bagian luar tubuh ikan dengan air laut.
- Pada cara peng-Es-an biasa
( Chiling )
rongga insang dan rongga perut diisi dengan butiran Es ( Es Curai ) ,
kemudian disimpan di palkah dengan jalan menyelimuti tubuh ikan dengan
butiran – butiran Es.
- Pada cara RSW
( Refrigerated Sea Water ), ikan yang telah dibersihkan / dibungkus dengan karung / goni atau plastik, dan selanjutnya disimpan dalam palkah.
Perlakuan
ini dimaksudkan untuk menghindari rusaknya tubuh ikan oleh benturan
dengan dinding palkah, atau sesama ikan itu sendiri. Sistem ini
diterapkan pada kapal penangkapan yang telah dilengkapi dengan peralatan
Refrigasi.
3. Perlakuan Ikan Tuna Ditempat Penampungan.
- Lembaran karung / goni dihampar di atas geladak kemudian disemprot dengan air dari dalam palkah ( air pendingin ikan ).
- Ikan Tuna diangkat ke atas geladak, karung pembungkus dilepas, dan ikan disimpan di atas hamparan karung basah sambil dicuci.
-
Selanjutnya ikan diletakan di atas kereta dorongan, dan ditutup dengan
karung basah agar tidak terkena sinar matahari, lalu diangkat ke tempat
penampungan.
- Pada tempat penampungan, Tuna terlebih dahulu disimpan dalam bak
Fibre Glass yang berisi air es.
4. Pengujian Organoleptik
Uji
Organoleptik dikerjakan langsung oleh tim dari perusahaan importir.
Pemeriksaan dilaksanakan dengan kriteria – kriteria sebagai berikut :
keadaan rupa ikan, tekstur daging ( kekenyalan ), bau, rasa daging, dan
sayatan jaringan daging.
5. Pengepakan ( Packing )
· Sebelum dikemas terlebih dahulu dicuci dan dibersihkan guna membuang sisa – sisa isi perut dan insang.
·
Ikan Tuna dipak dengan cara ditempatkan dalam posisi terlentang pada
bagian rongga insang dan rongga perut serta dekat bagian ekor diberi es
yang telah dibungkus dalam plastik.
J. TEKNIK NAVIGASI
1. Menjalankan instrument nautika
Alat navigasi yang terdapat di kapal Long Line diantaranya :
Ø Gyro compass
Ø Auto pilot
Ø Radar
Ø GPS
Ø Wireless phone
Ø Fish finder / Echosounder
Dan alat Oceanografi diantaranya :
Ø Termometer
Ø Current meter
Semua alat tersebut dipakai untuk mengetahui kedalaman ikan, posisi kapal, suhu air laut dan keadaan arus.
2. Observasi
Pengamatan
cuaca dan laut pada saat berlayar dilakukan oleh orang bagian deck.
Pengamatan untuk berlayar dilakukan 1 kali pada waktu berlayar.
Pengamatan keadaan laut untuk mendapatkan informasi pada saat berlayar
serta cara mengemudikan kapal yang aman, dimaksudkan untuk meningkatkan
kehandalan kerja bagi juru mudi,
fishing master dan perwira deck.
Keadaan cuaca pada saat masuk pelabuhan dan saat operasi, memilih
daerah penangkapan, keselamatan navigasi dan saat masuk - keluar
pelabuhan.
3. Penjaga saat berlayar, keselamatan operasi dan pelayaran
Semua
pengetahuan penggunaan alat navigasi dan oceanografi ini sangat penting
untuk dimengerti guna keamanan berlayar melalui praktek navigasi dan
kapal. Khususnya pengumpulan informasi dan pengamatan meteorologi dan
fenomena laut pada saat cuaca buruk dan pelayaran malam hari menjadi
ketentuan penting untuk menambah pengalaman praktek. Perjalanan kapal
secara aman dilakukan dengan petunjuk kapten.
Sumber: Source