Tampilkan postingan dengan label Kapal Ikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapal Ikan. Tampilkan semua postingan
Alat Tangkap Kapal PURSE SEINE
A. PENDAHULUAN
I. Definisi Purse Seine
Purse
Seine disebut juga “pukat cincin” karena alat tangkap ini dilengkapi
dengan cincin untuk mana “tali cincin” atau “tali kerut” di lalukan di
dalamnya. Fungsi cincin dan tali kerut / tali kolor ini penting terutama
pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut
tersebut jaring yang tadinya tidak berkantong akan terbentuk pada tiap
akhir penangkapan.
Prinsip
menangkap ikan dengan purse seine adalah dengan melingkari suatu
gerombolan ikan dengan jaring, setelah itu jaring bagian bawah
dikerucutkan, dengan demikian ikan-ikan terkumpul di bagian kantong.
Dengan kata lain dengan memperkecil ruang lingkup gerak ikan. Ikan-ikan
tidak dapat melarikan diri dan akhirnya tertangkap. Fungsi mata jaring
dan jaring adalah sebagai dinding penghadang, dan bukan sebagai pengerat
ikan.
Di Jepang purse seine dapat dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1) One Boat Horse Sardine Purse Seine
2) Two Boat Sardine Purse Seine
3) One Boat Horse Mackerel and Mackerel Purse Seine
4) Two Boat Horse Mackerel and Mackerel Purse Seine
5) One Boat Skipjack and Tuna Purse Seine
6) Two Boat skipjack and Tuna Purse Seine
Dari keenam macam purse seine di atas no (2), (3), (5) merupakan purse seine yang banyak digunakan.
Dalam paper ini akan dibahas purse seine dengan menggunakan 1 kapal.
II. Sejarah Purse Seine
Purse
seine, pertama kali diperkenalkan di pantai uatara Jawa oleh BPPL
(LPPL) pada tahun 1970 dalam rangka kerjasama dengan pengusaha perikanan
di Batang (Bpk. Djajuri) dan berhasil dengan baik. Kemudian
diaplikasikan di Muncar (1973 / 1974) dan berkembang pesat sampai
sekarang. Pada awal pengembangannya di Muncar sempat menimbulakan
konflik sosial antara nelayan tradisional nelayan pengusaha yang
menggunakan purse seine. Namun akhirnya dapat diterima juga. Purse seine
ini memang potensial dan produktivitas hasil tangkapannya tinggi. Dalam
perkembangannya terus mengalami penyempurnaan tidak hanya bentuk
(kontruksi) tetapi juga bahan dan perahu / kapal yang digunakan untuk
usaha perikanannya.
III. Prospektif Purse Seine
Pentingnya
pukat cincin dalam rangka usaha penangkapan sudah tidak perlu diragukan
untuk pukat cincin besar daerah penangkapannya sudah menjangkau
tempat-tempat yang jauh yang kadang melakukan penangkapan mulai laut
Jawa sampai selat Malaka dalam 1 trip penangkapan lamanya 30-40 hari
diperlukan berkisar antara 23-40 orang. Untuk operasi penangkapannya
biasanya menggunakan “rumpon”. Sasaran penangkapan terutama jenis-jenis
ikan pelagik kecil (kembung, layang, selat, bentong, dan lain-lain).
Hasil tangkapan terutama lemuru, kembung, slengseng, cumi-cumi.
1. Karakteristik
Dengan
menggunakan one boat sistem cara operasi menjadi lebih mudah. Pada
operasi malam hari lebih mungkin menggunakan lampu untuk mengumpulkan
ikan pada one boat sistem. Dengan one boat sistem memungkinkan pemakaian
kapal lebih besar, dengan demikian area operasi menjadi lebih luas dan
HP akan lebih besar, yang menyebabkan kecepatan melingkari gerombolan
ikan juga akan lebih besar. Oleh sebab itu dapat dikatakan tipe one boat
akan lebih ekonomis dan efisien jika kapal mekaniser, karena dengan
menggunakan sistem mekaniser pekerjaan menarik jaring, mengangkat
jaring, mengangkat ikan dll pekerjaan di dek menjadi lebih mudah.
5. Bahan dan Spesifikasinya
v Bagian jaring
Nama
bagian jaring ini belum mantap tapi ada yang membagi 2 yaitu “bagian
tengah” dan “jampang”. Namun yang jelas ia terdiri dari 3 bagian yaitu:
- jaring utama, bahan nilon 210 D/9 #1”
- jaring sayap, bahan dari nilon 210 D/6 #1”
- jaring kantong, #3/4”
srampatan
(selvedge), dipasang pada bagian pinggiran jaring yang fungsinya untuk
memperkuat jaring pada waktu dioperasikan terutama pada waktu penarikan
jaring. Bagian ini langsung dihubungkan dengan tali temali. Srampatan
(selvedge) dipasang pada bagian atas, bawah, dan samping dengan bahan
dan ukuran mata yang sama, yakni PE 380 (12, #1”). Sebanyak 20,25 dan 20
mata.
v Tali temali
- tali pelampung.
Bahan PE Ø 10mm, panjang 420m.
- tali ris atas.
Bahan PE Ø 6mm dan 8mm, panjang 420m.
- tali ris bawah.
Bahan PE Ø 6mm dan 8mm, panjang 450m.
- tali pemberat.
Bahan PE Ø 10mm, panjang 450m.
- tali kolor bahan.
Bahan kuralon Ø 26mm, panjang 500m.
- tali slambar
bahan PE Ø 27mm, panjang bagian kanan 38m dan kiri 15m
v Pelampung
Ada
2 pelampung dengan 2 bahan yang sama yakni synthetic rubber. Pelampung
Y-50 dipasang dipinggir kiri dan kanan 600 buah dan pelampung Y-80
dipasang di tengah sebanyak 400 buah. Pelampung yang dipasang di bagian
tengah lebih rapat dibanding dengan bagian pinggir.
v Pemberat
Terbuat dari timah hitam sebanyak 700 buah dipasang pada tali pemberat.
v Cincin
Terbuat
dari besi dengan diameter lubang 11,5cm, digantungkan pada tali
pemberat dengan seutas tali yang panjangnya 1m dengan jarak 3m setiap
cincin. Kedalam cincin ini dilakukan tali kolor (purse line).
B. Hasil Tangkapan
Ikan
yang menjadi tujuan utama penangkapan dari purse seine adalah ikan-ikan
yang “Pelagic Shoaling Species”, yang berarti ikan-ikan tersebut
haruslah membentuk shoal (gerombolan), berada dekat dengan permukaan air
(sea surface) dan sangatlah diharapkan pula agar densitas shoal itu
tinggi, yang berarti jarak antara ikan dangan ikan lainnya haruslah
sedekat mungkin. Dengan kata lain dapat juga dikatakan per satuan volume
hendaklah jumlah individu ikan sebanyak mungkin. Hal ini dapat
dipikirkan sehubungan dengan volume yang terbentuk oleh jaring (panjang
dan lebar) yang dipergunakan.
Jenis ikan yang ditangkap dengan purse seine terutama di daerah Jawa dan sekitarnya adalah : Layang (Decapterus spp), bentang, kembung (Rastrehinger spp) lemuru (Sardinella spp), slengseng, cumi-cumi dll.
C. Daerah Penangkapan
Purse seine dapat digunakan dari fishing ground dengan kondisi sebagai berikut :
1) A spring layer of water temperature adalah areal permukaan dari laut
2) Jumlah ikan berlimpah dan bergerombol pada area permukaan air
3) Kondisi laut bagus
Purse seine banyak digunakan di pantai utara Jawa / Jakarta, cirebon, Juwana dan pantai Selatan (Cilacap, Prigi, dll).
D. Alat Bantu Penangkapan
I. Lampu
Fungsi
lampu untuk penangkapan adalah untuk mengumpulkan kawanan ikan kemudian
dilakukan operasi penangkapan dengan menggunakan berbagai alat tangkap,
seperti purse seine.Jenis lampu yang digunakan bermacam-macam, seperti
oncor (obor), petromaks, lampu listrik (penggunaannya masih sangat
terbatas hanya untuk usaha penangkapan sebagian dari perikanan
industri).
Ikan-ikan
itu tertarik oleh cahaya lampu kiranya tidak terlalu dipermasalahkan
sebab adalah sudah menjadi anggapan bahwa hampir semua organisme hidup
termasuk ikan yang media hidupnya itu air terangsang (tertarik) oleh
sinar / cahaya (phototaxis positif) dan karena itu mereka selalu
berusaha mendekati asal / sumber cahaya dan berkumpul disekitarnya.
II. Rumpon
Rumpon
merupakan suatu bangunan (benda) menyerupai pepohonan yang dipasang
(ditanam) di suatu tempat ditengah laut. Pada prinsipnya rumpon terdiri
dari empat komponen utama, yaitu : pelampung (float), tali panjang
(rope) dan atraktor (pemikat) dan pemberat (sinkers / anchor).
Rumpon
umumnya dipasang (ditanam) pada kedalaman 30-75 m. Setelah dipasang
kedudukan rumpon ada yang diangkat-angkat, tetapi ada juga yang bersifat
tetap tergantung pemberat yang digunakan.
Dalam
praktek penggunaan rumpon yang mudah diangkat-angkat itu diatur
sedemikian rupa setelah purse seine dilingkarkan, maka pada waktu
menjelang akhir penangkapan, rumpon secara keseluruhan diangkat dari
permukaan air dengan bantuan perahu penggerak (skoci, jukung, canoes)
Untuk
rumpon tetap atau rumpon dengan ukuran besar, tidak perlu diangkat
sehingga untuk memudahkan penangkapan dibuat rumpon mini yang disebut
“pranggoan” (jatim) atau “leret” (Sumut, Sumtim). Pada waktu penangkapan
mulai diatur begitu rupa, diusahakan agar ikan-ikan berkumpul disekitar
rumpon dipindahkan atau distimulasikan ke rumpon mini. Caranya ada
beberapa macam misalnya dengan menggiring dengan menggerak-gerakkan
rumpon induk dari atas perahu melalui pelampung-pelampungnya. Cara lain
yang ditempuh yaitu seakan-akan meniadakan rumpon induk untuk sementara
waktu dengan cara menenggelamkan rumpon induk atau mengangkat separo
dari rumpo yang diberi daun nyiur ke atas permukaan air. Terjadilah
sekarang ikan-ikan yang semula berkumpul di sekitar rumpon pindah
beralih ke rumpon mini dan disini dilakukan penangkapan.
Sementara
itu bisa juga digunakan tanpa sama sekali mengubah kedudukan rumpon
yaitu dengan cara mengikatkan tali slambar yang terdapat di salah satu
kaki jaring pada pelampung rumpon, sedang ujung tali slambar lainnya
ditarik melingkar di depan rumpon. Menjelang akhir penangkapan satu dua
orang nelayan terjun kedalam air untuk mengusir ikan-ikan di sekitar
rumpon masuk ke kantong jaring. Cara yang hampir serupa juga dapat
dilakukan yaitu setelah jaring dilingkarkan di depan rumpon maka
menjelang akhir penangkapan ikan-ikan di dekat rumpon di halau engan
menggunakan galah dari satu sisi perahu.
E. Teknik Penangkapan (Sitting dan Moulting)
Pada
umumnya jaring dipasang dari bagian belakang kapal (buritan) sungguhpun
ada juga yang menggunakan samping kapal. Urutan operasi dapat
digambarkan sebagai berikut :
a) Pertama-tama
haruslah diketemukan gerombolan ikan terlebih dahulu. Ini dapat
dilakukan berdasarkan pengalaman-pengalaman, seperti adanya perubahan
warna permukaan air laut karena gerombolan ikan berenang dekat dengan
permukaan air, ikan-ikan yang melompat di permukaan terlihat riak-riak
kecil karena gerombolan ikan berenang dekat permukaan. Buih-buih di
permukaan laut akibat udara-udara yang dikeluarkan ikan, burung-burung
yang menukik dan menyambar-nyambar permukaan laut dan sebagainya.
Hal-hal tersebut diatas biasanya terjadi pada dini hari sebelum matahari
keluar atau senja hari setelah matahari terbenam disaat-saat mana
gerombolan ikan-ikan teraktif untuk naik ke permukaan laut. Tetapi
dewasa ini dengan adanya berbagai alat bantu (fish finder, dll) waktu
operasipun tidak lagi terbatas pada dini hari atau senja hari, siang
haripun jika gerombolan ikan diketemukan segera jaring dipasang.
b) Pada
operasi malam hari, mengumpulkan / menaikkan ikan ke permukaan laut
dilakukan dengan menggunakan cahaya. Biasanya dengan fish finder bisa
diketahui depth dari gerombolan ikan, juga besar dan densitasnya.
Setelah posisi ini tertentu barulah lampu dinyalakan (ligth intesity)
yang digunakan berbeda-beda tergantung pada besarnya kapal, kapasitas
sumber cahaya. Juga pada sifat phototxisnya ikan yang menjadi tujuan
penangkapan.
c) Setelah
fishing shoal diketemukan perlu diketahui pula swimming direction,
swimming speed, density ; hal-hal ini perlu dipertimbangkan lalu
diperhitungkan pula arah, kekuatan, kecepatan angin, dan arus, sesudah
hal-hal diatas diperhitungkan barulah jaring dipasang. Penentuan
keputusan ini harus dengan cepat, mengingat bahwa ikan yang menjadi
tujuan terus dalam keadaan bergerak, baik oleh kehendaknya sendiri
maupun akibat dari bunyi-bunyi kapal, jaring yang dijatuhkan dan lain
sebagainya. Tidak boleh luput pula dari perhitungan ialah keadaan dasar
perairan, dengan dugaan bahwa ikan-ikan yang terkepung berusaha
melarikan diri mencari tempat aman (pada umumnya tempat dengan depth
yang lebih besar) yang dengan demikian arah perentangan jaring harus
pula menghadang ikan-ikan yang terkepung dalam keadaan kemungkinan
ikan-ikan tersebut melarikan diri ke depth lebih dalam. Dalam waktu
melingkari gerombolan ikan kapal dijalankan cepat dengan tujuan supaya
gerombolan ikan segera terkepung. Setelah selesai mulailah purse seine
ditarik yang dengan demikian bagian bawah jaring akan tertutup.
Melingkari gerombolan ikan dengan jaring adalah dengan tujuan supaya
ikan-ikan jangan dapat melarikan diri dalam arah horisontal. Sedang
dengan menarik purse line adalah untuk mencegah ikan-ikan supaya ikan-ikan jangan dapat melarikan
diri ke bawah. Antara dua tepi jaring sering tidak dapat tertutup
rapat, sehingga memungkinkan menjadi tempat ikan untuk melarikan diri.
Untuk mencegah hal ini, dipakailah galah, memukul-mukul permukaan air
dan lain sebagainya. Setelah purse line selesai ditarik, barulah float
line serta tubuh jaring (wing) dan ikan-ikan yang terkumpul diserok /
disedot ke atas kapal.
F. Hal-hal yang Mempengaruhi Keberhasilan Penangkapan
1. Kecerahan Perairan
Transparasi
air penting diketahui untuk menentukan kekuatan atau banyak sedikit
lampu. Jika kecerahan kecil berarti banyak zat-zat atau
partikel-partikel yang menyebar di dalam air, maka sebagian besar
pembiasan cahaya akan habis tertahan (diserap) oleh zat-zat tersebut,
dan akhirnya tidak akan menarik perhatian atau memberi efek pada ikan
yang ada yang letaknya agak berjauhan.
2. Adanya gelombang
Angin
dan arus angin. Arus kuat dan gelombang besar jelas akan mempengaruhi
kedudukan lampu. Justru adanya faktor-faktor tersebut yang akan merubah
sinar-sinar yang semula lurus menjadi bengkok, sinar yang terang menjadi
berubah-ubah dan akhirnya menimbulkan sinar yang menakutkan ikan
(flickering light). Makin besar gelombang makin besar pula flickering
lightnyadan makin besar hilangnya efisiensi sebagai daya penarik
perhatian ikan-ikanmaupun biota lainnya menjadi lebih besar karena
ketakutan. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan penggunaan lampu yang
kontruksinya disempurnakan sedemikian rupa, misalnya dengan memberi
reflektor dan kap (tudung) yang baik atau dengan menempatkan under water
lamp.
3. Sinar Bulan
Pada
waktu purnama sukar sekali untuk diadakan penangkapan dengan
menggunakan lampu (ligth fishing) karena cahaya terbagi rata, sedang
untuk penangkapan dengan lampu diperlukan keadaan gelap agar cahaya
;ampu terbias sempurna ke dalam air.
4. Musim
Untuk
daerah tertentu bentuk teluk dapatmemberikan dampak positif untuk
penangkapan yang menggunakan lampu, misalnya terhadap pengaruh gelombang
besar, angin dan arus kuat. Penangkapan dengan lampu dapat dilakukan di
daerah mana saja maupun setiap musim asalkan angin dan gelombang tidak
begitu kuat.
5. Ikan dan Binatang Buas
Walaupun
semua ikan pada prinsipnya tertarik oleh cahay lampu, namun umumnya
lebih didominasi oleh ikan-ikan kecil. Jenis-jenis ikan besar (pemangsa)
umumnya berada di lapisan yang lebih dalam sedang binatang-binatang
lain seperti ular laut, lumba-lumba berada di tempat-tempat gelap
mengelilingi kawanan-kawanan ikan-ikan kecil tersebut. Binatang-binatang
tersebut sebentar-sebentar menyerbu (menyerang) ikan-ikan yang
bekerumun di bawah lampu dan akhirnya mencerai beraikan kawanan ikan
yang akan ditangkap.
6. Panjang dan Kedalaman Jaring
Untuk
purse seine yang beroperasi dengan satu kapal digunakan jaring yang
tidak terlalu panjang tetapi agak dalam karena gerombolan ikan di bawah
lampu tidak bergerak terlalu menyebar . jaring harus cukup dalam untuk
menangkap gerombolan ikan mulai permukaan sampai area yang cukup dalam
di bawah lampu.
7. Kecepatan kapal pada waktu melingkari gerombolan ikan
Jika kapal dijalankan cepat maka gerombolan ikan dapat segera terkepung.
8. Kecepatan Menarik Purse Line
Purse line harus ditarik cepat agar ikan jangan sampai melarikan diri ke bawah.
DAFTAR PUSTAKA
Au. Ayodya. DASEN FAKULTAS PERIKANAN. Cetakan Pertama. Penerbit :
Yayasan Dewi Sri. IPB. Bogor.
Waluyo Subani dan H.R Barus.1989.ALAT PENANGKAPAN IKAN DAN
UDANG LAUT DI INDONESIA. Balai Penelitian Perikanan
Laut. Jakarta.
WWW. MAINE AQUARIUM.COM
WWW.FISHERIES.COM
Sumber: Source
Sumber: Source
Alat Tangkap Trawl
A.PENDAHULUAN
1.Definisi Alat Tangkap
Kata “ trawl “ berasal dari bahasa prancis “ troler “ dari kata “ trailing “ adalah dalam bahasa inggris, mempunyai arti yang bersamaan, dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata “tarik “ ataupun “mengelilingi seraya menarik “. Ada yang menterjemahkan “trawl” dengan “jaring tarik” , tapi karena hampir semua jarring dalam operasinya mengalami perlakuan tarik ataupun ditarik , maka selama belum ada ketentuan resmi mengenai peristilahan dari yang berwenang maka digunakan kata” trawl” saja.
Dari kata
“ trawl” lahir kata “trawling” yang berarti kerja melakukan operasi
penangkapan ikan dengan trawl, dan kata “trawler” yang berarti kapal
yang melakukan trawling. Jadi yang dimaksud dengan jarring trawl ( trawl
net ) disini adalah suatu jaring kantong yang ditarik di belakang kapal
( baca : kapal dalam keadaan berjalan ) menelusuri permukaan dasar
perairan untuk menangkap ikan, udang dan jenis demersal lainnya. Jarring ini juga ada yang menyangkut sebagai “jaring tarik dasar”.
Stern trawl adalah otter trawl yang cara
operasionalnya ( penurunan dan pengangkatan ) jaring dilakukan dari
bagian belakang ( buritan ) kapal atau kurang lebih demikian.
Penangkapan dengan system stern trawl dapat menggunakan baik satu
jarring atau lebih.
2. Sejarah Alat Tangkap
Jaring trawl yang selanjutnya disingkat
dengan “trawl” telah mengalami perkembangan pesat di Indonesia sejak
awal pelita I. Trawl sebenarnya sudah lama dikenal di Indonesia sejak
sebelum Perang Dunia II walaupun masih dalam bentuk ( tingkat )
percobaan. Percobaan-percobaan tersebut sempat terhenti akibat pecah
Perang Dunia II dan baru dilanjutkan sesudah tahun 50-an ( periode
setelah proklamasi kemerdekaan ). Penggunaan jaring trawl dalam tingkat
percobaan ini semula dipelopori oleh Yayasan Perikanan Laut, suatu unit
pelaksana kerja dibawah naungan Jawatan Perikanan Pusat waktu itu.
Percobaan ini semula dilakukan oleh YPL Makassar (1952), kemudian
dilanjutkan oleh YPL Surabaya.
Menurut
sejarahnya asal mula trawl adalah dari laut tengah dan pada abad ke 16
dimasukkan ke Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, dan negara Eropa
lainnya. Bentuk trawl waktu itu bukanlah seperti bentuk trawl yang
dipakai sekarang yang mana sesuai dengan perkembangannya telah banyak
mengalami perubahan-perubahan, tapi semacam trawl yang dalam bahasa
Belanda disebut schrol net.
3. Prospektif Alat Tangkap
Perkembangan teknologi menyebabkan
kemajuan- kemajuan pada main gear, auxillary gear dan equipment lainny.
Pendeteksian letak jaring dalam air sehubungan depth swimming layer pada
ikan, horizontal opening dan vertical opening dari mulut jaring,
estimate catch yang berada pada cod end sehubungan dengan pertambahan
beban tarik pada winch, sudut tali kekang pada otter board sehubungan
dengan attack angel, perbandingan panjang dan lebar dari otter board,
dan lain-lain perlengkapan.
Demikian pula fishing ability dari beberapa
trawler yang beroperasi di perbagai perairan di tanah air, double ring
shrimp trawler yang beroperasi di perairan kalimantan, irian jaya dan
lain-lain sebagainya. Perhitungan recources sehubungan dengan fishing
intensity yang akan menyangkut perhitungan- perhitungan yang rumit,
konon kabarnya sudah mulai dipikirkan. Semakin banyak segi pandangan,
diharapkan perikanan trawl akan sampai pada sesuatu benntukl yang
diharapkan.
B. KONSTRUKSI ALAT TANGKAP
1. Konstruksi Umum Gambar 1
2. Detail Konstruksi Gambar 2
3. Gambar Teknis Gambar 3
4. Bahan dan Spesifikasi Gambar 4
5. Karakteristik
berdasarkan
letak penarikan jaring yang dilakukan di kapal kita mengenal adanya
stern trawl, dimana jaring ditarik dari buritan ( dalam segi
operasionalnya ). Dimana banyak kapal trawl yang menggunakan cara ini,
adapun karakteristik dari stern trawl ini antara lain:
Ø Stern trawl tidak seberapa dipengaruhi oleh angin dan gelombang dalam pelepasan jaring, tidak memerlukan memutar letak kapal
Ø Warp
berada lurus pada garis haluan buritan sehingga tenaga trawl winch
dapat menghasilkan daya guna maksimal sehingga pekerjaan melepas/
menarik dari jaring memerlukan waktu yang lebih sedikit, yang berarti
waktu untuk jaring berada dalam air ( operasi ) lebih banyak
Ø Trawl
winch pada stern trawl terpelihara dari pengaruh angin dan gelombang,
dengan demikian dalam cuaca buruk sekalipun operasi masih dapat
dilakukan dengan mudah
Ø Pada
stern trawl akibat dari screw current jaring akan segera hanyu,
demikian pula otter boat segera setelah dilepas akan terus membuka
Ø Karena
letak akan searah dengan garis haluan- buritan, maka di daerah fishing
ground yang sempit sekalipun operasi masih mungkin dilakukan, dengan
perkataan lain posisi jaring sehubungan dengan gerakan kapal lebih mudah
diduga
Ø Pada
stern trawl, pada waktu hauling ikan-ikan yang berada pada cod end
tidak menjadikan beban bagi seluruh jaring, karena cod end tersendiri
ditarik melalui slip way, dengan demikian jaring dapat terpelihara
C. HASIL TANGKAPAN
Yang menjadi
tujuan penangkapan pada bottom trawl adalah ikan-kan dasar ( bottom
fish ) ataupun demersal fish. Termasuk juga jenis-jenis udang ( shrimp
trawl, double ring shrimp trawl ) dan juga jenis-jenis kerang. Dikatakan
untuk periran laut jawa, komposisi catch antara lain terdiri dari jenis
ikan patek, kuniran, pe, manyung, utik, ngangas, bawal, tigawaja,
gulamah, kerong-kerong, patik, sumbal, layur, remang, kembung,
cumi,kepiting, rajungan, cucut dan lain sebagainya.
Catch yang dominan
untuk sesuatu fish ground akan mempengaruhi skala usaha, yang
kelanjutannya akan juga menetukan besar kapal dan gear yang akan
dioperasikan.
D. DAERAH PENANGKAPAN
Didalam alat tangkap trawl yang memiliki syarat-syarat fishing ground, antara lain sebagai berikut:
q Dasar fishing ground terdiri dari pasir, Lumpur ataupun campuran pasir dan Lumpur.
q Kecepatan arus pada mid water tidak besar ( dibawah 3 knot ) juga kecepatan arus pasang tidak seberapa besar
q Kondisi cuaca,laut, ( arus, topan, gelombang, dan lain-lain ) memungkinkan keamanan operasi
q Perubahan
milieu oceanografi terhadap mahluk dasar laut relatif kecil dengan
perkataan lain kontinuitas recources dijamin untuk diusahakan
terus-menerus
q Perairan mempunyai daya prokdutifitas yang besar serta recources yang melimpah
E.ALAT BANTU PENANGKAPAN
Pada umumnya
kapal-kapal trawl ini digerakkan oleh diesel ataupun steam. Kapal
dilengkapi dengan trawl winch, sebagai tenaga penggerak ada yang
menggunakan steam engine ( 45-75 HP ) bagi stream trawl dan ada pula
yang memakai motor dari 60-90 HP bagi diesel trawl. Winch ini
dihubungkan dengan warp, dan untuk mengontrol panjang warp dipasang
brake.
Besar
jaring yang dipakai berbeda-beda, dan untuk menyatakan besar jaring
dipakai penunjuk “ panjang dari head rope “ yang biasanya dengan satuan
feet atau meter.
F. TEKNIK OPERASIONAL ( SHOOTING & HAULING )
(1) kecepatan/lama waktu menarik jaring
adalah
ideal jika jaring dapat ditarik dengan kecepatan yang besar, tapi hal
ini sukar untuk mencapainya, karena kita dihadapkan pada beberapa hal,
antara lain keadaan terbukanya mulut jaring, apakah jaring berada di air
sesuai dengan yang dimaksudkan ( bentuk terbukanya ), kekuatan kapal
untuk menarik ( HP ), ketahanan air terhadap tahanan Air, resistance
yang makin membesar sehubungan dengan catch yang makin bertambah, dan
lain sebagainya. Faktor-faktor ini berhubungan antara satu dengan yang
lainnya dan masing-masing menghendaki syarat tersendiri.
Pada
umumnya jaring ditarik dengan kecepatan 3-4 knot. Kecepatan inipun
berhubungan pula dengan swemming speed dari ikan, keadaa dasar laut,
arus, angin, gelombang dan lain sebagainya, yang setelah
mempertimbangkan factor-faktor ini, kecepatan tarik ditentukan .
Lama
waktu penarikan di dasarkan kepada pengalaman-pengalaman dan factor
yang perlu diperhatikan adalah banyak sedikitnya ikan yang diduga akan
tertangkap., pekerjaan di dek, jam kerja crew, dan lain sebagainya. Pada
umumnya berkisar sekitar 3-4 jam, dan kadang kala hanya memerlukan
waktu 1-2 jam.
(2) panjang warp
factor
yang perlu diperhatikan adalah depth,sifat dasar perairan ( pasir,
Lumpur), kecepatan tarik. Biasanya panjang warp sekitar 3-4 kali depth.
Pada fishing ground yang depthnya sekitar 9M ( depth minimum ). Panjang
warp sekitar 6-7 kali depth. Jika dasar laut adalah Lumpur, dikuatirkan
jaring akan mengeruk lumpu, maka ada baiknya jika warp diperpendek,
sebaliknya bagi dasar laut yang terdiri dari pasir keras ( kerikil ),
adalah baik jika warp diperpanjang.
Pengalaman
menunjukkan bahwa pada depth yang sama dari sesuatu Fishing ground
adalah lebih baik jika kita menggunakan warp yang agak panjang, daripada
menggunakan warp yang terlalu pendek. Hal ini dapat dipikirkan sebagai
berikut.bentuk warp pada saat penarikan tidaklah akan lurus, tetapi
merupakan suatu garis caternian. Pada setiap titik –titik pada warp akan
bekerja gaya- gaya berat pada warp itu sendiri, gaya resistance dari
air, gaya tarik dari kapal/ winch, gaya ke samping dari otter boat dan
gaya-gaya lainnya. Resultan dari seluruh gaya yang complicataed ini
ditularkan ke jaring ( head rope and ground rope ), dan dari sini
gaya-gaya ini mengenai seluruh tubuh jaring. Pada head rope bekerja gaya
resistance dari bottom yang berubah-ubah, gaya berat dari catch yang
berubah-ubah semakin membesar, dan gaya lain sebagainya.
Gaya
tarik kapal bergerak pada warp, beban kerja yang diterima kapal
kadangkala menyebabkan gerak kapal yang tidak stabil, demikian pula
kapal sendiri terkena oleh gaya-gaya luar ( arus, angin, gelombang )
Kita
mengharapkan agar mulut jaring terbuka maksimal, bergerak horizontal
pada dasar ataupun pada suatu depth tertentu. Gaya tarik yang
berubah-ubah, resistance yang berubah-ubah dan lain sebagainya,
menyebabkan jaring naik turun ataupun bergerak ke kanan dan kekiri.
Rentan yang diakibatkannya haruslah selalu berimbang. Warp terlalu
pendek, pada kecepatan lebih besar dari batas tertentu akan menyebabkan
jaring bergerak naik ke atas ( tidak mencapai dasar ), warp terlalu
panjang dengan kecepatan dibawah batas tertentu akan menyebabkan jaring
mengeruk lumpur. Daya tarik kapal ( HP dari winch) diketahui terbatas,
oleh sebab itulah diperoleh suatu range dari nilai beban yan g optimal.
Apa yang terjadi pada saat operasi penarikan, pada hakikatnya adalah
merupakan sesuatu keseimbangan dari gaya-gaya yang complicated jika
dihitung satu demi satu.
G. HAL YANG MEMPENGARUHI KEGAGALAN TANGKAPAN
Pada saat operasi, dapat terjadi hal-hal yang dapat menggagalkan operasi antara lain:
Ø Warp terlalu panjang atau speed terlalu lambat atau juga hal lain maka jaring akan mengeruk Lumpur
Ø Jaring tersangkut pada karang / bangkai kapal
Ø Jaring atau tali temali tergulung pada screw
Ø Warp putus
Ø Otterboat tidak bekerja dengan baik, misalnya terbenam pada lmpur pada waktu permulaan penarikan dilakukan
Ø Hilang keseimbangan, misalnya otterboat yang sepihak bergerak ke arah pihak yang lainnya lalu tergulung ke jaring
Ø Ubur-ubur, kerang-kerangan dan lain-lain penuh masuk ke dalam jaring, hingga cod end tak mungkin diisi ikan lagi.
Ø Dan lain sebagainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ayodhyoa,A.U.1983.Metode Penangkapan Ikan. Cetakan pertama. Faperik. IPB. Bogor
Subani,W. 1978. Alat dan Cara Penangkapan Ikan di Indonesia,jilid I. LPPL. Jakarta
The Gourack Ropework,Co.,ltd.1961. deep sea trawling and wing trawling
Ward,george,ed.1964. Stern trawling
Sumber: Source
PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP LONG LINE SECARA EFEKTIF DAN EFISIENA
Rawai Tuna (Long line)
Rawai tuna atau tuna long line merupakan alat penangkap ikan tuna yang paling efektif. Rawai tuna merupakan ragkaian sejumlah pancing yang dioperasikan sekaligus (Gambar 1). Satu tuna long liner biasanya mengoperasikan 1.000 -2.000 mata pancing untuk sekali turun. Rawai tuna umumnya dioperasikan di laut lepas atau mencapai perairan samudera. Alat tangkap ini bersifat pasif, yaitu menanti umpan dimakan oleh ikan sasaran. Pengoprasian alat ini adalah dengan menurunkan pancing ke perairan, lalu mesin kapal dimatikan sehingga kapal dan alat tangkap akan hanyut mengikuti arus atau disebut drifting. Driftingberlangsung selama kurang lebih 4 – 5 jam, selanjutnya mata pancing diangkat kembali ke atas kapal.
Gambar 1. Kapal long line
Umpan long line harus
bersifat atraktif, misalnya sisik ikan yang mengkilat, tahan di dalam
air dan tulang punggung yang kuat. Umpan dalam pengoperasian alat
tangkap ini berfungsi sebagai alat pemikat ikan. Jenis umpan yang
digunakan umumnya ikan pelagis kecil, seperti lemuru (Sardinella sp.), layang (Decapterussp.), kembung (Rastrelliger sp.) dan bandeng (Chanos chanos).Rawai
tuna ini merupakan alat tangkap yang ramah lingkungan karena bersifat
selektif terhadap jenis ikan yang ditangkap. Jenis ikan tangkapan utama
berupa ikan tuna dan ikan cakalang merupakan jenis komoditi yang
exportable, sehingga pemanfaatan alat tangkap ini semakin meningkat.
Dahuri (2001), menyampaikan bahwa potensi tuna dan cakalang di perairan
indonesia adalah 780.040 ton. Oleh karena itu, pentingnya pengoperasian
alat tangkap rawai tuna dibahas dalam tulisan ini.
Kapal
Alat tangkap rawai tuna dioperasikan menggunakan kapal khusus rawai
tuna yang memiliki buritan cukup luas untuk pengoperasian rawai
menggunakan line hauler. Kapal yang digunakan berukuran yang bervariasi
sekitar 30 – 600 GT. Ukuran kapal tersebut menentukan jumlah hari trip
penangkapan yang dilakukan.Bahan pembuatan kapal ada yang terbuat dari
kayu, FRP dan baja. Bahan kapal juga tergantung kepada ukuran besar
kapal. Ukuran kapal lebih dari 150GT umumnya terbuat dari baja.
Alat
tangkap rawai pada dasarnya rawai tuna terdiri atas 3 komponen utama,
yaitu pelampung rangkaian tali temali dan pancing. Pada pancing
dilengkapi dengan umpan berupak ikan utuh jenis pelagis kecil yang
disukai ikan tuna. Jumlah pancing yang digunakan berkisar antara 800 –
2000 pancing dengan panjang rentang tali bisa mencapai ratusan
kilimeter.
Alat
bantu penangkapanAlat bantu yang dipergunakan dalam pengoperasian rawai
tuna adalah lampu apung atau radio apung yang berfungsi sebagai
pendeteksi keberadaan atau posisi alat tangkap. Selain itu juga umumnya
dilengkapi dengan line hauler, line thrower, belt conveyor, penggulung tali cabang dan peralatan oseanografi.
Daerah
penangkapan dan daerah penyebaran tuna di perairan Indonesia adalah di
Samudera Hindia sebelah Barat Pulau Sumatera, Selatan Pulau Jawa, Laut
Timor, Laut Sulawesi, Laut Flores, dan perairan sebelah Utara Papua
(Naingolan, 2007). Beberapa kendala yang diamati oleh penulis adalah
penentuan lokasi daerah penangkapan yang tepat, penggunaan peralatan
tangkap dan peralatan pendukung lainnya, dan penangananan ikan hasil
tangkapan.
1. Penentuan
daerah penangkapan ikan yang masih menggunakan metode –metode lama.
Perkembangan teknologi menuntut pengusaha atau pun nelayan untuk
bersaing dalam upaya penangkapa ikan. Penggunaan teknologi yang terus
berkembang mengakibatkan operasi kapal rawai yang belum menggunakan
teknologi terbaru susah bersaing dengan kapal rawai yang menggunakan
teknologi terbaru. Penggunaan teknologi terbaru akan lebih cepat
menentukan daerah penangkapan ikan dan berakibat pada penekanan biaya
operasional
2. Posisi
penurunan atau pengangkatan alat tangkap rawai yang umumnya panjang
(berkisar antara 800 – 2000 mata pancing panjanynya mencapai ratusan
kilometer) menuntut kemampuan dan keterampilan ABK dalam penggunaan
peralatan tangkap dan peralatan pendukung lainnya. Kesalahan dalam
penurunan dan pengangkatan rawai berakibat pada kecelakaan seperti
putusnya tali, tersangkutnya kail, dan lain – lain.
Penanganan
ikan hasil tangkapan pada kapal rawai tuna ini umumnya sudah memenuhi
standar kualitas penanganan mutu yang diinginkan oleh konsumen. Namun
demikian, penanganan ikan pun membutuhkan keterampilan pemilahan ikan
dari kail dan penggunaan teknologi yang digunakan untuk menyimpan ikan.
Solusi operasional rawai tuna yang efektif dan efisien bukanlah jawaban
yang mudah. Namun demikian, penulis mencoba membahas berdasarkan
faktor-faktor kendala sebagaimana dijelaskan di atas.Teknologi yang
digunakan dalam pemanfaatan sumberdaya tuna disesuaikan dengan sifat dan
tingkah laku ikan sasaran. Tuna (Thunnus spp.) dan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan
jenis ikan perenang cepat yang bergerombol. Oleh karena itu, alat
tangkap ikan menggunakan rawai tuna harus disesuaikan dengan sifat dan
tingkah laku ikan yang menjadi tujuan penangkapan.Umumnya tuna dan
cakalang dapat tertangkap pada keldalaman 0 – 400 meter. Salinitas
perairan yang disukai berkisar 32 – 35 ppt atau di perairan oseanik dan
suhu perairan berkisar17 – 31o C.Penentuan daerah penangkapan
dengan tepat dapat dilakukan dengan dukungan berbagai informasi dan
bantuan teknologi yang terus berkembang selain dengan secara visual
langsung di perairan. Penggunaan teknologi saat ini adalah penginderaan
jauh kelautan dan hidroakustik yang menentukan daerah penangkapan dengan
menganalisis secara fisika kimiawi perairan.
Perbekalan yang harus disiapkan sebelum kapal bertolak dari pelabuhan ke daerah fishing ground diantaranya :
· Umpan
· Fuel Oil dan Pelumas
· Perlengkqpqn alat tangkap cadangan
· Deck / engine supply
· Makanan dan Air tawar
· Obat – obatan
5. Persiapan lainnya
Melakukan pemeriksaan peralatan navigasi, teropong, mesin utama, alat pengganti ( suku cadang ), mesin pendingin, pompa, generator, perlengkapan, penangkapan dan lain –lain. Selain itu juga mempekerjakan orang untuk turun kapal, meyiapkan perlengkapan kesehatan, alat komunikasi, menentukan pasar dan lainnya.
Suatu perairan dapat dikatakan daerah penangkpan ikan ( fishing ground ) dari suatu alat, apabila alat itu dapat digunakan secara terus menerus dan menguntungkan. Dengan demikian fishing ground harus ditentukan oleh beberapa faktor antara lain :
- Faktor adanya ikan ( musim ikan )
- Faktor jenis ikan yang ada dan dapat ditangkap dengan alat tersebut
- Faktor yang menguntungkan usaha penangkapan
- Faktor meteorologi dan oceanografi serta hal lain yang mempengaruhi
2. Sifat fishing ground
Sangat tergantung dari sasaran yang akan ditangkap, sasaran utama yakni tuna dan jenis ikan pelagis lainnya yang mempunyai sifat hampir sama dengan tuna. Migrasi jenis ini jauh lebih luas sehubungan dengan itu sifat fishing ground Tuna adalah :
- Perairan dalam dan berkadar garam tinggi ( diatas 30 o/00 )
- Perairan bersih terhindar dari pencemaran dan penyebaran luas
Sifat-sifat tersebut di perairan Indonesia terdapat di samudera Indonesia dan samudera Pasifik. Karena luasnya kita bagi menjadi :
o Daerah Andaman dan Nicobar
o Daerah sebelah barat pulau Sumatera
o Daerah sebelah selatan pulau Jawa
o Daerah Nusa Tenggara
o Daerah Samudera Tengah
o Daerah Australia Barat
3. Musim Ikan
Sepanjang tahun ikan tuna dapat ditangkap. Tetapi karena pengaruh temperatur air, iklim dan arus, maka terjadilah perbedaan musim ikan di berbagai daerah, sebagai berikut:
v Bulan Januari dan Agustus : Samudera Indonesia tengah
v Bulan Februari dan Maret : Sebelah barat pulau Sumatera
v Bulan April : Daerah Andaman dan Nicobar
v Bulan Mei, Oktober s/d Desember : Sebelah barat Australia
v Bulan Juni dan September : Nusa Tenggara
v Bulan Juli dan September : Sebelah selatan pulau Jawa.
a. Keadaan kapal saat setting
Fishing Master dan kapten di ruang kemudi mengemudikan kapal sambil memperhatikan, keamanan / keselamatan pada saat setting, kecepatan setting, adanya kapal lain dan jaraknya, lintasan tali pancing, laju kapal, suhu air, pusaran arus, burung laut, lumba – lumba dan kayu yang terbawa arus.
b. Pada saat memasang umpan
Hal yang perlu diperhatikan adalah pencarian umpan, pemasangan pada mata pancing ( biasanya ikan dikait pada bagian kepalanya ). Pada ikan kembung pada bagian punggung, urutan mata pancing, melepas gulungan tali cabang, dan memeriksa cacat pada setiap bagian tali cabang.
c. Radio – buoy dan lampu
Untuk penarikan saat tengah malam, pada tali utama ( main line ) dipasang lampu sebanyak 5 - 6 buah dan radio buoy sebanyak 12 – 13 buah.
3. Teknik Setting
a. Waktu setting
Setting dilaksanakan pukul 2 – 3 pagi. Tali yang di setting terlebih dahulu adalah tali cabang untuk perairan laut dalam. Lama setting kira –kira 5 jam. Panjang tali utama mencapai 100 mil.
b. Pada saat sebelum setting
Pekerjaan setting dilakukan secara berurutan seperti, mengeluarkan umpan dari palka, mencairkan umpan, mulai menjalankan mesin, mengukur kedalaman air ( menggunakan alat yang dioperasikan di ruang kemudi ), menyambung antar bagian pancing dari main line ke branch line, memasang snaph, bola tali, memasang umpan pada mata pancing, memasang pelampung di tali bola, radio buoy dan mempersiapkan lampu, serta pembagian kerja diatur oleh Fishing Master dan Bosun.
Tali cabang untuk perairan laut dalam dipisahkan di sisi kapal dan tali yang akan dipakai diletakkan di bagian sebelah kiri. Bola yang tidak dipakai dan yang tidak berhubungan dengan tali yang dipasang dikumpulkan di atas ruang kemudi. Pemasangan bola diameter 30 cm dilakukan setelah pemasangan 4 buah bola diameter 20 cm.
4. Teknik Hauling
a. Waktu hauling
Untuk pengoperasian hauling dimulai kira – kira jam 12 siang. Lamanya hauling antara 12 – 18 jam.
b. Saat hauling
Sambil menggulung main line perlu diperhatikan, arah bentangan tali, keadaan hasil tangkapan dan pemotongan tali yang kusut jika diperlukan.
- Dilakukan pengaturan dan pengawasan tempat penyimpanan main line
- Penggunaan mesin pengumpul main line
- Melepas snaph
- Mengatur kembali tempat penyimpanan alat – alat
- Mengatur penggunaan tempat bola
- Membetulkan tali cabang, mengganti mata pancing, serta membetulkan tali yang kusut.
Pada penangkapan dengan long line mengenai masalah umpan sangatlah menentukan jumlah hasil tangkap. Oleh karena itu perlu perhatian yang sebaik – baiknya, perlu kita ketahui bahwa ikan tuna dan sejenis ikan pelagis lainnya tidak suka umpan dalam bentuk irisan.
Ikan pelagis tujuan penangkapan adalah jenis ikan perenang cepat dan memiliki kebiasaan memburu mangsa. Untuk memberi kesan bahwa umpan kita itu ikan hidup, maka diusahakan menyediakan umpan dalam bentuk utuh, segar dan tidak rusak. Walaupun tidak dapat memenuhi semua syarat sebagai umpan, jenis umpan Long Line antara lain :
Ø Cumi – cumi ( terbaik tapi harganya mahal, jumlahnya terbatas )
Ø Sarden / lemuru, memiliki leher pendek dan kurang kuat
Ø Ikan Terbang ( jumlah terbatas dan sulit diperoleh )
Ø Mackerel tuna ( tongkol kecil ), lehernya kuat dan keras.
2. Cara memasang umpan
Pemasangan umpan pada long line berbeda dengan line fishing lainnya. Prinsip kerja cara pemasangan umpan yang benar menjaga agar umpan tidak terlalu rusak dan menyangkut dengan kuat.
Untuk menghasilkan cara pemasangan yang baik, maka terdapat beberapa cara bagian umpan yang terkait pancing, antara lain :
1. Mata tembus mata
2. Kepala bagian bawah atau atas segaris dengan tutup insang
3. Bagian bawah sirip dada tembus sebelah menyebelah
4. Bagian ekor
Pemilihan cara pemasangan umpan yang benar diharapkan :
ü Umpan terkait kuat, karena umpan tergantung dengan menahan arus, ikan umpan melekat kuat.
ü Umpan dapat melambai lebih baik, untuk memberi kesan bahwa umpan itu ikan hidup bebas.
3. Kecepatan memasang umpan
Umpan dipasang pada waktu itu juga, saat akan dilempar kelaut. Berdasarkan pengalaman kecepatan rata – rata tiap jam dapat menurunkan ± 500 pancing . Berarti tiap satu menit harus dapat memasang umpan antara 8 – 10 pancing.
4. Syarat umpan
Ø Warna kontras, mengkilat ( hitam, putih atau disesuaikan dengan warna isi perut ikan tuna atau sejenisnya )
Ø Panjang antara 15 – 25 cm, lebar 2 – 5 cm
Ø Leher kuat dan daging ulet
Ø Mempunyai bau segar yang menyolok.
Ø Harganya murah
Ø Perawatan gampang dan mudah
- Tuna Mata Besar ( big eye tuna )
1. Badannya agak besar pendek gemuk. Yang besar dapat mencapai 2 meter dan beratnya 200 kg.
2. Matanya agaknya besar.
- Madidihang ( yellow fin tuna )
1. Badannya tidak gemuk seperti tuna mata besar
2. Panjangnya mencapai 1,8 meter dan beratnya 100 kg
3. Sirip dada dan sirip punggung berwarna kuning
- Tuna sirip biru ( blue fin tuna )
1. Panjangnya mencapai 1,6 meter dan beratnya 300 kg
2. Warna badan bagian atas biru kehijauan
- Albakora ( albacore )
1. Tergolong tuna kecil. Dapat mencapai panjang kurang lebih 1 meter dan berat 15 kg
2. Sirip dada cukup panjang
- Ikan pedang ( sword fish )
1. Dapat mencapai panjang sampai 4,5 meter dan berat 500 kg
2. Rahang atas tumbuh panjang sekali dan gepeng
3. Badannya bulat
- Setuhuk ( marlin )
1. Panjang mencapai 4 meter dan berat 600 kg
- Ikan layaran ( sail fish )
1. Panjang dapat mencapai 3 meter dan berat 400 kg
2. Tidak memiliki sisik
I. PENANGANAN IKAN TUNA
1. Mengenal Ikan Tuna.
Ikan tuna merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai tambah yang cukup berarti dipasaran ikan Internasional. Hal ini terbukti dengan adanya permintaan tuna segar dipasaran Jepang yang mencapai 250 – 350 ton per hari, sehingga hal ini menjadi suatu tantangan bagi Indonesia yang mempunyai potensi lestari khusus untuk ikan tuna sebesar 258,8 ribu ton / tahun.
Adapun jenis – jenis tuna segar yang diekspor adalah : Big – eye tuna ( Thunnus obesus ), Yellow fin tuna ( Thunnus albacares ).
Selanjutnya, guna mendukung ekspor tuna segar menjadi produk yang bermutu baik, maka semenjak ikan tertangkap sampai pada tangan konsumen, mutu kesegarannya harus dijaga dengan tetap mempertahankan suhu ikan berkisar 1- 2,5 0 C, atau selalu dalam keadaan di es.
2. Penanganan ( handling ) tuna segar
Dalam hal ini ada 2 cara penanganan dengan peng-Es-an biasa ( Chiling ), kedua dengan sistim Pendinginan Air Laut ( Refrigerated Sea Water ) yang sering terdapat pada kapal – kapal penangkapan.
Urutan penanganan dapat dilakukan sebagai berikut :
- Penyiapan palkah dan deck kapal, dengan cara membersihkannya terlebih dahulu.
- Pada saat ikan telah naik di atas kapal, maka harus dikerjakan secara hati – hati baik saat melepas mata pancing maupun meletakannya di atas deck, dan hindari luka – luka atau memar tubuhnya.
Bila masih hidup dapat dimatikan terlebih dahulu dengan menusukan marlin / spike tepat pada bagian otak di kepala.
- Buka salah satu tutup insang, lalu buang lapisan – lapisan insang dengan cara dipotong dengan pisau.
- Keluarkan isi perut melalui rongga insang. Untuk mempermudah penarikan isi perut maka bagian anus disobek sepanjang ± 3 cm. Sehingga usus yang menempel pada anus dapat tercabut dengan mudah.
- Cuci bersih rongga insang dengan perut, juga bagian luar tubuh ikan dengan air laut.
- Pada cara peng-Es-an biasa ( Chiling ) rongga insang dan rongga perut diisi dengan butiran Es ( Es Curai ) , kemudian disimpan di palkah dengan jalan menyelimuti tubuh ikan dengan butiran – butiran Es.
- Pada cara RSW ( Refrigerated Sea Water ), ikan yang telah dibersihkan / dibungkus dengan karung / goni atau plastik, dan selanjutnya disimpan dalam palkah.
Perlakuan ini dimaksudkan untuk menghindari rusaknya tubuh ikan oleh benturan dengan dinding palkah, atau sesama ikan itu sendiri. Sistem ini diterapkan pada kapal penangkapan yang telah dilengkapi dengan peralatan Refrigasi.
3. Perlakuan Ikan Tuna Ditempat Penampungan.
- Lembaran karung / goni dihampar di atas geladak kemudian disemprot dengan air dari dalam palkah ( air pendingin ikan ).
- Ikan Tuna diangkat ke atas geladak, karung pembungkus dilepas, dan ikan disimpan di atas hamparan karung basah sambil dicuci.
- Selanjutnya ikan diletakan di atas kereta dorongan, dan ditutup dengan karung basah agar tidak terkena sinar matahari, lalu diangkat ke tempat penampungan.
- Pada tempat penampungan, Tuna terlebih dahulu disimpan dalam bak Fibre Glass yang berisi air es.
4. Pengujian Organoleptik
Uji Organoleptik dikerjakan langsung oleh tim dari perusahaan importir. Pemeriksaan dilaksanakan dengan kriteria – kriteria sebagai berikut : keadaan rupa ikan, tekstur daging ( kekenyalan ), bau, rasa daging, dan sayatan jaringan daging.
5. Pengepakan ( Packing )
· Sebelum dikemas terlebih dahulu dicuci dan dibersihkan guna membuang sisa – sisa isi perut dan insang.
· Ikan Tuna dipak dengan cara ditempatkan dalam posisi terlentang pada bagian rongga insang dan rongga perut serta dekat bagian ekor diberi es yang telah dibungkus dalam plastik.
J. TEKNIK NAVIGASI
1. Menjalankan instrument nautika
Alat navigasi yang terdapat di kapal Long Line diantaranya :
Ø Gyro compass
Ø Auto pilot
Ø Radar
Ø GPS
Ø Wireless phone
Ø Fish finder / Echosounder
Dan alat Oceanografi diantaranya :
Ø Termometer
Ø Current meter
Semua alat tersebut dipakai untuk mengetahui kedalaman ikan, posisi kapal, suhu air laut dan keadaan arus.
2. Observasi
Pengamatan cuaca dan laut pada saat berlayar dilakukan oleh orang bagian deck. Pengamatan untuk berlayar dilakukan 1 kali pada waktu berlayar. Pengamatan keadaan laut untuk mendapatkan informasi pada saat berlayar serta cara mengemudikan kapal yang aman, dimaksudkan untuk meningkatkan kehandalan kerja bagi juru mudi, fishing master dan perwira deck. Keadaan cuaca pada saat masuk pelabuhan dan saat operasi, memilih daerah penangkapan, keselamatan navigasi dan saat masuk - keluar pelabuhan.
3. Penjaga saat berlayar, keselamatan operasi dan pelayaran
Semua pengetahuan penggunaan alat navigasi dan oceanografi ini sangat penting untuk dimengerti guna keamanan berlayar melalui praktek navigasi dan kapal. Khususnya pengumpulan informasi dan pengamatan meteorologi dan fenomena laut pada saat cuaca buruk dan pelayaran malam hari menjadi ketentuan penting untuk menambah pengalaman praktek. Perjalanan kapal secara aman dilakukan dengan petunjuk kapten.
Sumber: Source
A. PENDAHULUAN
Dengan diproklamirkannya Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia ( ZEEI ) 200 mil dari batas perairan teritorial tanggal 21 Maret 1980, maka luas perairan Indonesia bertambah menjadi ± 5,8 juta Km2. Bertambah luasnya perairan Indonesia memberi harapan baru yang menguntungkan bagi perkembangan perikanan laut.
Potensi lestari sumberdaya hayati perikanan tuna di perairan teritorial dan ZEEI diperkirakan 258,8 ribu ton per tahun ( Anonymus,1983 ).
Bertambahnya potensi perikanan tuna dari ZEEI merupakan tantangan bagi
kita untuk dapat mengelola dan memanfaatkannya secara rasional.
Long
Line merupakan salah satu alat tangkap yang efektif dan khusus
ditujukan untuk menangkap ikan tuna, karena konstruksinya mampu
menjangkau kedalaman renang ( Swimming layer ) dan sangat sesuai untuk dioperasikan di perairan ZEEI 200 mil.
B. PENGERTIAN
Long line adalah tali yang memanjang yang dimasukkan ke dalam laut, terdiri dari main line ( tali utama ) dan branch line
( tali cabang ) yang diikatkan pada tali utama tersebut. Tali cabang
adalah tali sebagai cabang dari tali utama, yang menjorok ke dalam laut,
dan di bawahnya digantungkan pancing – pancing yang diberi umpan.
C. KAPAL TUNA LONG LINE
Kapal
untuk ikan tuna long line, termasuk jenis kapal untuk laut lepas. Hal
itu dikarenakan daerah penangkapan ikan tuna ataupun jenis ikan tuna
lainnya berada jauh dari lepas pantai, maka kemampuan kapal juga
tergantung pada ukuran besar kecilnya kapal.
1. Kapal ikan tuna long line dilengkapi dengan mesin seperti
· Line hauler è Mesin untuk menarik tali dari laut
· Side roller è Roll dipakai ketika menarik tali dari laut
· Line roller è Mesin untuk membuang tali ke laut
· Branch reel è Mesin untuk menggulung tali cabang dari laut
2. Alat penangkapan ikan tuna
· Alat penangkapan ikan tuna terdiri dari tali utama, tali cabang, tali pelampung, pelampung dan pancing.
· Tali utama ( main line )
a Tali utama Tali ini adalah tali utama ( main line ) pada tuna long line
b Di tali utama dipasang tali cabang setiap 50 m
· Tali cabang ( branch line )
a Tali cabang ini adalah tali cabang pancing sepanjang 20 – 50 m
b Di ujung tali cabang dipasang mata pancing
· Tali pelampung ( buoy line )
a Tali ini adalah tali – tali untuk mengapungkan tali utama
b Tali ini menyambungkan pelampung dengan tali utama
c Mudah dipasang dan dicabut dengan tali utama karena ada snaph
· Pelampung ( float )
a Pelampung adalah alat untuk mengapungkan tali utama di laut
b Pelampung berbentuk bola plastik yang cukup besar
· Pelampung berlampu ( light buoy )
a Pelampung ini, pada malam hari digunakan untuk mencari posisi ujung tali tuna di laut.
b Diatas pelampung dipasang lampu tanda
· Mata pancing ( hook )
a Mata pancing dipasang diujung tali cabang
b Mata pancing ini memiliki kaitan supaya ikan yang telah memakan umpan tidak terlepas ( tetap terkait )
Tabel 1.1 Ukuran dari bagian – bagian Long Line
| No. | Nama Bagian | Bahan | Diameter ( mm ) | Panjang ( m ) |
| 1. | Tali Utama | Polyester | 6 - 6,5 | 50 |
| 2. | Tali Cabang : a. Snaph on b. Tali cabang utama c. Kili – Kili d. Yoka f. Pancing | Baja anti karat Polyester Kuningan & timah Polyester Baja dilapis timah | 5,0 3,5 No . 28 3,3 No . 5 / 6 | 0,15 20 - 12,5 - |
| 3. | Tali Pelampung | Polyester | 6,5 | 30 |
| 4. | Pelampung | Plastik | 300 | - |
D. PERSIAPAN PENANGKAPAN
1. Persiapan Berangkat.
Sebelum
berangkat diperlukan waktu satu minggu untuk persiapan. Kapten harus
betul – betul sudah merencanakan apa yang diharapkan dari hasil
penangkapan itu dan menentukan untuk rencana pelayaran baru.
-
Para ABK bersiap untuk memuat barang perbekalannya, selain itu juga
para pegawai perusahaan perikanan yang di darat harus sudah memulai
keperluan operasi pemancingan ikan dan barang - barang yang diminta dari
anak buah kapal tersebut.
- Seiring
perkembangan zaman dengan adanya teknologi canggih, baik mesin – mesin
maupun peralatan penangkapan ikan yang semakin modern, begitu pula cara
memesan barang atau memperbaiki peralatan yang rusak, cukup dengan
memesan ke pabriknya langsung sebelum bertolak, dengan kata lain
persiapan untuk bertolak waktunya semakin pendek.
-
Bagi ABK, karena pelayaran long line ini jangka panjang, maka dapat
membawa barang – barang pribadi yang diperlukan, selain itu saat ini
alat komunikasi semakin canggih, untuk berhubungan dengan darat dapat
dilakukan sewaktu – waktu.
2. Berlayar
Berkenaan
dengan hasil laporan ke darat ( kantor pusat ) pada kapal ikan tuna
jenis Long Line ini, semakin ditingkatkan kualitasnya. Persiapan alat
pancing akan dimuat ke kapal, tidak perlu dikerjakan sendiri oleh ABK,
maka bagi dirinya lebih enak. Hanya setelah sampai ke Daerah
Penangkapan, ABK tinggal siap untuk memulai operasi memancing, jadi
tidak perlu membenahi alat – alat pancingnya, dengan jalan ini jelas
waktunya semakin hemat. Alat – alat ini semua umumnya telah disediakan
oleh toko penjual alat – alat pemancingan, untuk itu berarti penanganan
atau pemeliharaannya sedikit.
- Perijinan kapal
- Ijin Usaha Perikanan ( IUP ) • Sertifikat Kesempurnaan
- Surat Penangkapan Ikan ( SPI ) • Surat Tanda Kebangsaan
- Surat Ijin Penangkapan Ikan ( SIPI ) • Surat Ukur
- Surat ijin berlayar dari syahbandar • Sijil Awak Kapal
- Sertifikat garis muat
- Perbekalan
Perbekalan yang harus disiapkan sebelum kapal bertolak dari pelabuhan ke daerah fishing ground diantaranya :
· Umpan
· Fuel Oil dan Pelumas
· Perlengkqpqn alat tangkap cadangan
· Deck / engine supply
· Makanan dan Air tawar
· Obat – obatan
5. Persiapan lainnya
Melakukan pemeriksaan peralatan navigasi, teropong, mesin utama, alat pengganti ( suku cadang ), mesin pendingin, pompa, generator, perlengkapan, penangkapan dan lain –lain. Selain itu juga mempekerjakan orang untuk turun kapal, meyiapkan perlengkapan kesehatan, alat komunikasi, menentukan pasar dan lainnya.
E. FISHING GROUND TUNA LONG LINE
1. Prinsip fishing groundSuatu perairan dapat dikatakan daerah penangkpan ikan ( fishing ground ) dari suatu alat, apabila alat itu dapat digunakan secara terus menerus dan menguntungkan. Dengan demikian fishing ground harus ditentukan oleh beberapa faktor antara lain :
- Faktor adanya ikan ( musim ikan )
- Faktor jenis ikan yang ada dan dapat ditangkap dengan alat tersebut
- Faktor yang menguntungkan usaha penangkapan
- Faktor meteorologi dan oceanografi serta hal lain yang mempengaruhi
2. Sifat fishing ground
Sangat tergantung dari sasaran yang akan ditangkap, sasaran utama yakni tuna dan jenis ikan pelagis lainnya yang mempunyai sifat hampir sama dengan tuna. Migrasi jenis ini jauh lebih luas sehubungan dengan itu sifat fishing ground Tuna adalah :
- Perairan dalam dan berkadar garam tinggi ( diatas 30 o/00 )
- Perairan bersih terhindar dari pencemaran dan penyebaran luas
Sifat-sifat tersebut di perairan Indonesia terdapat di samudera Indonesia dan samudera Pasifik. Karena luasnya kita bagi menjadi :
o Daerah Andaman dan Nicobar
o Daerah sebelah barat pulau Sumatera
o Daerah sebelah selatan pulau Jawa
o Daerah Nusa Tenggara
o Daerah Samudera Tengah
o Daerah Australia Barat
3. Musim Ikan
Sepanjang tahun ikan tuna dapat ditangkap. Tetapi karena pengaruh temperatur air, iklim dan arus, maka terjadilah perbedaan musim ikan di berbagai daerah, sebagai berikut:
v Bulan Januari dan Agustus : Samudera Indonesia tengah
v Bulan Februari dan Maret : Sebelah barat pulau Sumatera
v Bulan April : Daerah Andaman dan Nicobar
v Bulan Mei, Oktober s/d Desember : Sebelah barat Australia
v Bulan Juni dan September : Nusa Tenggara
v Bulan Juli dan September : Sebelah selatan pulau Jawa.
F. OPERASI PENANGKAPAN
1. Bagian penting dalam operasia. Keadaan kapal saat setting
Fishing Master dan kapten di ruang kemudi mengemudikan kapal sambil memperhatikan, keamanan / keselamatan pada saat setting, kecepatan setting, adanya kapal lain dan jaraknya, lintasan tali pancing, laju kapal, suhu air, pusaran arus, burung laut, lumba – lumba dan kayu yang terbawa arus.
b. Pada saat memasang umpan
Hal yang perlu diperhatikan adalah pencarian umpan, pemasangan pada mata pancing ( biasanya ikan dikait pada bagian kepalanya ). Pada ikan kembung pada bagian punggung, urutan mata pancing, melepas gulungan tali cabang, dan memeriksa cacat pada setiap bagian tali cabang.
c. Radio – buoy dan lampu
Untuk penarikan saat tengah malam, pada tali utama ( main line ) dipasang lampu sebanyak 5 - 6 buah dan radio buoy sebanyak 12 – 13 buah.
3. Teknik Setting
a. Waktu setting
Setting dilaksanakan pukul 2 – 3 pagi. Tali yang di setting terlebih dahulu adalah tali cabang untuk perairan laut dalam. Lama setting kira –kira 5 jam. Panjang tali utama mencapai 100 mil.
b. Pada saat sebelum setting
Pekerjaan setting dilakukan secara berurutan seperti, mengeluarkan umpan dari palka, mencairkan umpan, mulai menjalankan mesin, mengukur kedalaman air ( menggunakan alat yang dioperasikan di ruang kemudi ), menyambung antar bagian pancing dari main line ke branch line, memasang snaph, bola tali, memasang umpan pada mata pancing, memasang pelampung di tali bola, radio buoy dan mempersiapkan lampu, serta pembagian kerja diatur oleh Fishing Master dan Bosun.
Tali cabang untuk perairan laut dalam dipisahkan di sisi kapal dan tali yang akan dipakai diletakkan di bagian sebelah kiri. Bola yang tidak dipakai dan yang tidak berhubungan dengan tali yang dipasang dikumpulkan di atas ruang kemudi. Pemasangan bola diameter 30 cm dilakukan setelah pemasangan 4 buah bola diameter 20 cm.
4. Teknik Hauling
a. Waktu hauling
Untuk pengoperasian hauling dimulai kira – kira jam 12 siang. Lamanya hauling antara 12 – 18 jam.
b. Saat hauling
Sambil menggulung main line perlu diperhatikan, arah bentangan tali, keadaan hasil tangkapan dan pemotongan tali yang kusut jika diperlukan.
- Dilakukan pengaturan dan pengawasan tempat penyimpanan main line
- Penggunaan mesin pengumpul main line
- Melepas snaph
- Mengatur kembali tempat penyimpanan alat – alat
- Mengatur penggunaan tempat bola
- Membetulkan tali cabang, mengganti mata pancing, serta membetulkan tali yang kusut.
G. CARA MEMASANG UMPAN
1. Jenis umpan :Pada penangkapan dengan long line mengenai masalah umpan sangatlah menentukan jumlah hasil tangkap. Oleh karena itu perlu perhatian yang sebaik – baiknya, perlu kita ketahui bahwa ikan tuna dan sejenis ikan pelagis lainnya tidak suka umpan dalam bentuk irisan.
Ikan pelagis tujuan penangkapan adalah jenis ikan perenang cepat dan memiliki kebiasaan memburu mangsa. Untuk memberi kesan bahwa umpan kita itu ikan hidup, maka diusahakan menyediakan umpan dalam bentuk utuh, segar dan tidak rusak. Walaupun tidak dapat memenuhi semua syarat sebagai umpan, jenis umpan Long Line antara lain :
Ø Cumi – cumi ( terbaik tapi harganya mahal, jumlahnya terbatas )
Ø Sarden / lemuru, memiliki leher pendek dan kurang kuat
Ø Ikan Terbang ( jumlah terbatas dan sulit diperoleh )
Ø Mackerel tuna ( tongkol kecil ), lehernya kuat dan keras.
2. Cara memasang umpan
Pemasangan umpan pada long line berbeda dengan line fishing lainnya. Prinsip kerja cara pemasangan umpan yang benar menjaga agar umpan tidak terlalu rusak dan menyangkut dengan kuat.
Untuk menghasilkan cara pemasangan yang baik, maka terdapat beberapa cara bagian umpan yang terkait pancing, antara lain :
1. Mata tembus mata
2. Kepala bagian bawah atau atas segaris dengan tutup insang
3. Bagian bawah sirip dada tembus sebelah menyebelah
4. Bagian ekor
Pemilihan cara pemasangan umpan yang benar diharapkan :
ü Umpan terkait kuat, karena umpan tergantung dengan menahan arus, ikan umpan melekat kuat.
ü Umpan dapat melambai lebih baik, untuk memberi kesan bahwa umpan itu ikan hidup bebas.
3. Kecepatan memasang umpan
Umpan dipasang pada waktu itu juga, saat akan dilempar kelaut. Berdasarkan pengalaman kecepatan rata – rata tiap jam dapat menurunkan ± 500 pancing . Berarti tiap satu menit harus dapat memasang umpan antara 8 – 10 pancing.
4. Syarat umpan
- Ditinjau dari segi teknis :
Ø Warna kontras, mengkilat ( hitam, putih atau disesuaikan dengan warna isi perut ikan tuna atau sejenisnya )
Ø Panjang antara 15 – 25 cm, lebar 2 – 5 cm
Ø Leher kuat dan daging ulet
Ø Mempunyai bau segar yang menyolok.
- Ditinjau dari segi ekonomis
Ø Harganya murah
Ø Perawatan gampang dan mudah
H. HASIL TANGKAPAN
Jenis Ikan Tuna yang tertangkap dengan Long Line :- Tuna Mata Besar ( big eye tuna )
1. Badannya agak besar pendek gemuk. Yang besar dapat mencapai 2 meter dan beratnya 200 kg.
2. Matanya agaknya besar.
- Madidihang ( yellow fin tuna )
1. Badannya tidak gemuk seperti tuna mata besar
2. Panjangnya mencapai 1,8 meter dan beratnya 100 kg
3. Sirip dada dan sirip punggung berwarna kuning
- Tuna sirip biru ( blue fin tuna )
1. Panjangnya mencapai 1,6 meter dan beratnya 300 kg
2. Warna badan bagian atas biru kehijauan
- Albakora ( albacore )
1. Tergolong tuna kecil. Dapat mencapai panjang kurang lebih 1 meter dan berat 15 kg
2. Sirip dada cukup panjang
- Ikan pedang ( sword fish )
1. Dapat mencapai panjang sampai 4,5 meter dan berat 500 kg
2. Rahang atas tumbuh panjang sekali dan gepeng
3. Badannya bulat
- Setuhuk ( marlin )
1. Panjang mencapai 4 meter dan berat 600 kg
- Ikan layaran ( sail fish )
1. Panjang dapat mencapai 3 meter dan berat 400 kg
2. Tidak memiliki sisik
I. PENANGANAN IKAN TUNA
1. Mengenal Ikan Tuna.
Ikan tuna merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai tambah yang cukup berarti dipasaran ikan Internasional. Hal ini terbukti dengan adanya permintaan tuna segar dipasaran Jepang yang mencapai 250 – 350 ton per hari, sehingga hal ini menjadi suatu tantangan bagi Indonesia yang mempunyai potensi lestari khusus untuk ikan tuna sebesar 258,8 ribu ton / tahun.
Adapun jenis – jenis tuna segar yang diekspor adalah : Big – eye tuna ( Thunnus obesus ), Yellow fin tuna ( Thunnus albacares ).
Selanjutnya, guna mendukung ekspor tuna segar menjadi produk yang bermutu baik, maka semenjak ikan tertangkap sampai pada tangan konsumen, mutu kesegarannya harus dijaga dengan tetap mempertahankan suhu ikan berkisar 1- 2,5 0 C, atau selalu dalam keadaan di es.
2. Penanganan ( handling ) tuna segar
Dalam hal ini ada 2 cara penanganan dengan peng-Es-an biasa ( Chiling ), kedua dengan sistim Pendinginan Air Laut ( Refrigerated Sea Water ) yang sering terdapat pada kapal – kapal penangkapan.
Urutan penanganan dapat dilakukan sebagai berikut :
- Penyiapan palkah dan deck kapal, dengan cara membersihkannya terlebih dahulu.
- Pada saat ikan telah naik di atas kapal, maka harus dikerjakan secara hati – hati baik saat melepas mata pancing maupun meletakannya di atas deck, dan hindari luka – luka atau memar tubuhnya.
Bila masih hidup dapat dimatikan terlebih dahulu dengan menusukan marlin / spike tepat pada bagian otak di kepala.
- Buka salah satu tutup insang, lalu buang lapisan – lapisan insang dengan cara dipotong dengan pisau.
- Keluarkan isi perut melalui rongga insang. Untuk mempermudah penarikan isi perut maka bagian anus disobek sepanjang ± 3 cm. Sehingga usus yang menempel pada anus dapat tercabut dengan mudah.
- Cuci bersih rongga insang dengan perut, juga bagian luar tubuh ikan dengan air laut.
- Pada cara peng-Es-an biasa ( Chiling ) rongga insang dan rongga perut diisi dengan butiran Es ( Es Curai ) , kemudian disimpan di palkah dengan jalan menyelimuti tubuh ikan dengan butiran – butiran Es.
- Pada cara RSW ( Refrigerated Sea Water ), ikan yang telah dibersihkan / dibungkus dengan karung / goni atau plastik, dan selanjutnya disimpan dalam palkah.
Perlakuan ini dimaksudkan untuk menghindari rusaknya tubuh ikan oleh benturan dengan dinding palkah, atau sesama ikan itu sendiri. Sistem ini diterapkan pada kapal penangkapan yang telah dilengkapi dengan peralatan Refrigasi.
3. Perlakuan Ikan Tuna Ditempat Penampungan.
- Lembaran karung / goni dihampar di atas geladak kemudian disemprot dengan air dari dalam palkah ( air pendingin ikan ).
- Ikan Tuna diangkat ke atas geladak, karung pembungkus dilepas, dan ikan disimpan di atas hamparan karung basah sambil dicuci.
- Selanjutnya ikan diletakan di atas kereta dorongan, dan ditutup dengan karung basah agar tidak terkena sinar matahari, lalu diangkat ke tempat penampungan.
- Pada tempat penampungan, Tuna terlebih dahulu disimpan dalam bak Fibre Glass yang berisi air es.
4. Pengujian Organoleptik
Uji Organoleptik dikerjakan langsung oleh tim dari perusahaan importir. Pemeriksaan dilaksanakan dengan kriteria – kriteria sebagai berikut : keadaan rupa ikan, tekstur daging ( kekenyalan ), bau, rasa daging, dan sayatan jaringan daging.
5. Pengepakan ( Packing )
· Sebelum dikemas terlebih dahulu dicuci dan dibersihkan guna membuang sisa – sisa isi perut dan insang.
· Ikan Tuna dipak dengan cara ditempatkan dalam posisi terlentang pada bagian rongga insang dan rongga perut serta dekat bagian ekor diberi es yang telah dibungkus dalam plastik.
J. TEKNIK NAVIGASI
1. Menjalankan instrument nautika
Alat navigasi yang terdapat di kapal Long Line diantaranya :
Ø Gyro compass
Ø Auto pilot
Ø Radar
Ø GPS
Ø Wireless phone
Ø Fish finder / Echosounder
Dan alat Oceanografi diantaranya :
Ø Termometer
Ø Current meter
Semua alat tersebut dipakai untuk mengetahui kedalaman ikan, posisi kapal, suhu air laut dan keadaan arus.
2. Observasi
Pengamatan cuaca dan laut pada saat berlayar dilakukan oleh orang bagian deck. Pengamatan untuk berlayar dilakukan 1 kali pada waktu berlayar. Pengamatan keadaan laut untuk mendapatkan informasi pada saat berlayar serta cara mengemudikan kapal yang aman, dimaksudkan untuk meningkatkan kehandalan kerja bagi juru mudi, fishing master dan perwira deck. Keadaan cuaca pada saat masuk pelabuhan dan saat operasi, memilih daerah penangkapan, keselamatan navigasi dan saat masuk - keluar pelabuhan.
3. Penjaga saat berlayar, keselamatan operasi dan pelayaran
Semua pengetahuan penggunaan alat navigasi dan oceanografi ini sangat penting untuk dimengerti guna keamanan berlayar melalui praktek navigasi dan kapal. Khususnya pengumpulan informasi dan pengamatan meteorologi dan fenomena laut pada saat cuaca buruk dan pelayaran malam hari menjadi ketentuan penting untuk menambah pengalaman praktek. Perjalanan kapal secara aman dilakukan dengan petunjuk kapten.
Sumber: Source
Langganan:
Postingan (Atom)
